Menyongsong 2025, Mazda makin agresif membawa inovasi. Salah satu langkah besar terlihat dari pengumuman pembangunan pabrik modul baterai lithium-ion di Iwakuni, Jepang — sebagai bagian dari strategi elektrifikasi global mereka. Pabrik ini akan memasok baterai untuk model mobil listrik (EV) Mazda, sebagai bagian dari komitmen Mazda menuju mobilitas berkelanjutan dan target karbon-netral.
Di Indonesia, Mazda juga aktif memperkenalkan model-model terbaru. Tahun ini, mereka resmi meluncurkan Mazda CX-80 — SUV plug-in hybrid pertama dari Mazda di Indonesia — yang mengombinasikan mesin bensin dan motor listrik, menawarkan fleksibilitas sekaligus efisiensi bahan bakar. Selain itu, di ajang pameran otomotif besar, mereka menampilkan line-up terbaru seperti Mazda CX-3 Kuro dan Mazda CX-60 Sport, memperkuat pilihan kendaraan SUV bagi konsumen lokal.
Namun Mazda juga mempertimbangkan kembali arah transisinya ke EV murni. Menurut roadmap terbaru, perusahaan memilih strategi “multi-solution” — artinya mereka akan tetap mengembangkan beragam jenis kendaraan: mesin bensin, hybrid, hingga EV — tergantung kebutuhan dan regulasi pasar. Pendekatan ini memungkinkan Mazda mempertahankan karakter khas mereka: sensasi berkendara responsif dan keseimbangan antara performa dan efisiensi.
Di sisi lingkungan dan keberlanjutan, Mazda memperbarui komitmen untuk mencapai netralitas karbon. Mereka merancang ulang roadmap produksi agar pabrik-pabrik mereka menggunakan energi lebih bersih — beralih dari bahan bakar fosil ke sistem listrik atau gas yang lebih ramah lingkungan. Ini menunjukkan bahwa Mazda ingin tidak hanya berinovasi dalam produk, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan perubahan iklim global.
Jika kamu mau — saya bisa juga tambahkan prediksi tren Mazda 2026–2030 berdasarkan perkembangan global dan pasar Indonesia, supaya kamu bisa melihat kemana arah Mazda ke depan.