Tesla menghadapi sejumlah tekanan finansial besar pada tahun 2025. Laporan keuangan kuartal I menunjukkan bahwa laba bersih perusahaan menyusut hingga 71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan pendapatan turun sekitar 9,3%. Penurunan ini sebagian dipicu oleh ketatnya persaingan dari produsen mobil listrik asal Tiongkok seperti BYD, serta tantangan dalam rantai pasokan global.
Sementara itu, Tesla juga mencatat penurunan penjualan pada kuartal II 2025. Meskipun demikian, di pasar China Tesla menunjukkan sedikit kebangkitan — pada Q1 2025, penjualan di daratan Tiongkok mencapai 137.200 unit, lebih tinggi dari periode sama tahun sebelumnya. Strategi Tesla untuk menghadirkan mobil listrik yang lebih terjangkau pun jadi sorotan, walaupun margin keuntungan diperkirakan akan tertekan dengan peluncuran Model Y dan Model 3 versi murah.
Namun, Tesla juga menghadapi masalah teknis. Baru-baru ini, lebih dari 63.000 unit Cybertruck ditarik kembali (recall) karena lampu parkir depan yang terlalu terang dan berisiko mengganggu pengemudi lain. Selain itu, badan regulasi di AS, NHTSA, membuka investigasi untuk mode bantuan pengemudi “Mad Max” dari Tesla yang dilaporkan bisa melaju agresif dan melebihi batas kecepatan.
Di sisi kolaborasi industri, Tesla mendapat kabar positif: Stellantis (pemilik merek-merek seperti Jeep, Dodge, Alfa Romeo) akan mulai mengadopsi sistem pengisian Tesla (NACS) di beberapa EV mereka mulai awal 2026. Langkah ini akan memperluas jaringan akses Supercharger Tesla, sekaligus memperkuat posisi Tesla dalam ekosistem kendaraan listrik global.
Kalau mau, bisa saya cek semua berita Tesla di Indonesia dan Asia Tenggara dalam 3–6 bulan terakhir — mau saya lakukan?